Membentuk Karakter melalui Live In
Januari 26, 2010 pukul 8:22 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar(beberapa siswa sedang membajak sawah dengan sapi di Desa Sukomangli, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, dalam kegiatan Live In yang diadakan baru-batu ini)
dikutip dari Suara Merdeka cetak (26/01)
SEMARANG – Karakter siswa tak hanya dibangun dari proses pembelajran di sekolah. Siswa perlu pula terjun ke lapangan untuk merasakan kehidupan masyarakat sebagai makhluk sosial.
Karena itu untuk membentuk karakter siswa, SMA Negeri 3 Semarang mengadakan kegiatan yang diberi nama live in, yaitu siswa tinggal bersama masyarakat pedesaan, yang diadakan 16 hingga 19 Januari 2010 lalu.
Selama empat hari, 489 siswa kelas X dan kelas XI yang tahun lalu tidak dapat mengikuti dikarenakan suatu hal, tinggal di 7 desa di Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, diantaranya Desa Selo, Gedong, Mlatiharjo, Pakisan, Plososari, Sukomangli, dan Wirosari.
Mereka diditipkan pada orang tua asuh untuk mengikuti kehidupan sehari-hari. Induk semang meliputi petani, peternak ayam dan kambing, serta penjual jamu. Mereka pun membantu mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Misalnya, pergi ke sawah atau berjualan jamu keliling.
Ketua Panitia, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan Soleh Amin, menuturkan kegiatan itu merupakan andalan sekolah bertaraf internasional (SBI) dalam membangun karakter siswa.
Laboratorium Terbesar
“Kehidupan nyata adalah laboratorium terbesar di dunia pendidikan. Siswa harus menghadapi segala bentuk peristiwa dan fenomena kehidupan, baik secara langsung maupun tidak. Mereka harus mengamati, belajar, sekaligus meneladani kehidupan masyarakat,”tuturnya.
Dia mengemukakan kegiatan itu untuk membangun karakter agar siswa memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Jadi mereka mampu mengatasi berbagai persoalan secara mandiri dalam kondisi serbaterbatas. Setelah merasakan kondisi nyata di desa, diharapkan mereka mampu membuat proyeksi mimpi di kemudian hari.
Miftakhun Nur Fatikha (16), siswa kelas X-1, menuturkan acara itu merupakan pengalaman tak terlupakan. Dia sangat merasakan perbedaan kehidupan antara di desa dan kota.
“Awalnya kaget harus melakukan pekerjaan yang belum biasa kami lakukan. Namun akhirnya kami terbiasa dengan kegiatan dan keseharian orang tua asuh. Kami pun dapat mengambil nilai dan hikmahnya,”katanya.
Selama empat hari itu, dia tinggal di rumah Mujiono (50). Petani itu adalah warga RT 3 RW 1 Desa Selo, Patean, Kabupaten Kendal. (K3-53)
Tinggalkan sebuah Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan Balasan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.


