Live In


Latar belakang profesi dan sumber penghasilan keluarga antara masyarakat kota dan desa berbeda,  sehingga kondisi perekonomian, adat istiadat, dan kebiasaan sosial-ekonomi masyarakat perkotaan dan pedesaan juga cenderung berbeda. Masyarakat kota cenderung lebih sejahtera dan berfasilitas lebih lengkap dibandingkan dengan masyarakat desa.

Dalam hal sosial-kemasyarakatan dan aktivitas hidup sehari-hari, masyarakat perkotaan cenderung bersifat individualis. Para remaja terutama pada usia sekolah secara perlahan-lahan dan turun-temurun terbiasa melihat hidup dalam kondisi tersebut dan cenderung meniru dalam hidupnya kelak.

Inilah labotarorium paling besar di dunia pendidikan, yaitu kehidupan nyata sehari-hari di masyarakat,  baik yang ada di sekeliling maupun berjauhan, selama dapat diakses oleh siswa/anak. Segala bentuk peristiwa dan fenomena kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung akan menjadi pengamatan, pembelajaran sekaligus teladan bagi para remaja.

Dari kondisi di atas, SMA Negeri 3 Semarang  tahun 2010 ini menyusun program kegiatan yang diharapkan mampu meminimalkan sifat-sifat seperti di atas, yang di beri nama “Live In“ yaitu siswa ikut bersosialisasi secara langsung dalam masyarakat pedesaan selama beberapa hari.

I. Nama dan Sifat Kegiatan

a. Nama kegiatan

Kegiatan ini diberi nama “Live In“,  maksudnya siswa kelas X SMA 3 semarang baik dari kelas reguler, akselerasi, maupun olimpiade dititipkan untuk hidup bersama dengan keluarga penduduk wilayah tertentu dalam beberapa hari untuk mengikuti aktivitas kehidupan sehari-hari mereka. Selanjutnya keluarga yang diikuti tersebut disebut sebagai “Bapak/Orang Tua  asuh”, sedangkan daerah/wilayah tempat tinggal siswa disebut dengan “Lokasi” Live In . Di setiap lokasi (dapat berupa RT atau RW ), para siswa didampingi oleh satu orang guru yang ikut tinggal bersama di lokasi yang disebut dengan “Guru Pembimbing”.

b. Sifat Kegiatan

Kegiatan ini bersifat wajib bagi seluruh siswa kelas X siswa SMA  Negeri 3 Semarang tahun pembelajaran 2009 -2010 dan siswa kelas XI yang pada tahun lalu tidak ikut dengan alasan tertentu.

II. Tujuan

Dengan Menitipkan siswa untuk hidup bersama “Bapak asuh”, siswa akan merasakan langsung kehidupan bermasyarakat di daerah pedesaan yang kondisinya serbaterbatas, kegiatan ini diharapkan :

  1. Mampu membangun karakter siswa agar memiliki kepekaan sosial yang tinggi, sehingga mampu mengatasi berbagai persoalan hidup secara mandiri dalam kondisi serba terbatas.
  2. Siswa mampu membuat “refleksi”, artinya setelah merasakan kondisi nyata di desa tersebut, mereka mampu mengambil hikmah pelajaran untuk membuat semacam proyeksi atas mimpi-mimpi dalam kehidupan mereka yang ideal kelak.
  3. Mempromosikan visi-misi SMA 3 Semarang melalui SDM siswa yang dimiliki sekolah sebagai sekolah unggulan bertaraf internasional.

III. Waktu dan Jumlah Peserta

a. Waktu

Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 hari 3 malam, yaitu tanggal 16 – 19 Januari 2010 yang lalu (saat siswa kelas XII melakukan Uji Coba  UN)

b. Jumlah Peserta

Peserta kegiatan ini berjumlah  489 orang dengan perincian:

  • Kelas X Regular, dan X Olimpiade ada  482 siswa
  • Guru Pembimbing ada 20 orang, yang terdiri 10 guru pria dan 10 guru wanita.

IV. Tempat Pelaksanaan

a. Lokasi

Tujuh Desa yang digunakan adalah rumah- rumah penduduk yang memenuhi syarat dijadikan Bapak/Keluarga Asuh di Desa Sukomangli, Kalibareng, Kalices, Plososari, Wirosari, Kalilumpang, dan Pakisan di Kecamatan Patean Kabupaten Kendal Jawa Tengah

b. Rumah Tinggal “ Bapak Asuh”

Dalam kegiatan tersebut diperlukan  262 KK sebagai “Bapak Asuh“. Tiap-tiap KK dihuni oleh maksimal 2 (dua) siswa dengan rincian sebagai berikut :

    1. Bapak / keluarga asuh  siswa putri sebanyak : 156 KK
    2. Bapak / keluarga asuh siswa putra sebanyak : 106 KK
  1. VII. Laporan Pelaksanaan selama Live In
    a. Ragam Mata Pencaharian Bapak/Orang Tua asuh

(1)    Petani (Menanam Padi)

(2)    Pekebun (Menanam Jambu Biji Merah, Kopi)

(3)    Peladang (Menanam Jagung)

(4)    Peternak (Ayam, Sapi, Itik)

(5)    Buruh (Penderes Getah Karet)

(6)    Pedagang (Penjual Jamu, Pembuat Emping Melinjo, Tempe, Warung)

b. Aktivitas Siswa Bersama Orang Tua Asuh

Selama Live In empat hari tiga malam, para siswa setiap hari ikut merasakan beraktivitas bekerja bersama orang tua asuh masing-masing. Yang orang tua asuhnya petani, mereka ikut terjun ke sawah. Yang orang tua asuhnya pekebun, mereka ikut ke kebun jambu biji. Yang orang tua asuhnya peladang, mereka ikut mencangkul di ladang jagung. Yang peternak, ikut mengambili telur ayam di kandang, ikut menyabit rumput untuk pakan sapi, ikut memberi pakan bebek. Yang penderes, mereka ikut menderes getah karet (dimulai pukul 05.00 pagi). Yang pedagang, mereka ikut berjualan jamu, membuat emping melinjo, dan melayani pembeli di warung milik orang tua asuh.

c. Aktivitas Siswa Malam Hari

Selama tiga malam Live In, setiap malam usai magrib para siswa satu kelas berkumpul di tempat yang telah disepakati bersama (di balai desa, balai RW, mushola, atau rumah Pak Kades/Kadus). Setiap Kelas berkumpul di tempat yang berbeda dengan didampingi oleh wali kelas atau guru pendamping kelas masing-masing. Dengan arahan Bapak/Ibu Guru, para siswa dengan bebas menyampaikan narasi pembelajaran berdasarkan pengalaman mereka beraktivitas pada hari itu. Dalam menyampaikan narasi pembelajaran tersebut, para siswa menguraikan kesan-kesan, refleksi diri, dan hikmah pelajaran apa saja yang bisa memperkaya batin mereka. Narasi pembelajaran ini pula yang akhirnya mereka jadikan isi Laporan Live In tertulis kelas masing-masing.

d. Kesehatan Para Siswa Selama Live In

Secara umum kondisi kesehatan para siswa peserta Live in 2009 sangat baik. Dari 526 siswa hanya ada satu siswa, yaitu Zevanya Youlanda kelas X-10, yang harus dibawa ke rumah sakit pada malam terakhir kegiatan karena asmanya kambuh. Namun, setelah ditangani dokter, kondisi siswa tersebut membaik dan paginya atas izin wali kelas langsung dijemput pulang ke Semarang dari rumah sakit oleh orang tuanya.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wow!!! keren bgt.
    sebagai seorang guru sy sngat senang dengan kegiatan semacam itu, mengingat pergauan dan gaya hidup yang serba global tetapi banyak hal yang tentunya tidak sesuai dengan adat dan istiadat mungkin nilai-nilai bangsa. maka kegiatan-kegiatan semacam itu semoga memberikan cerminan untuk generasi muda.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: