TALENTA PEMBELAJARAN UNTUK MEMPERBAIKI BAHASA INDONESIA DI RUANG PUBLIK MENUJU KETAHANAN NASIONAL

Oleh : Soleh Amin (Guru Bahasa Indonesia SMA 3 Semarang)

Bahasa tidak hanya diajarkan secara turun temurun agar manusia dapat bertahan hidup, namun lebih dalam dari itu, bahasa diajarkan agar generasi penerusnya mempunyai ciri, nilai-nilai dan kebijakan sesuai dengan budaya masyarakat yang bersangkutan, sehingga mereka mempunyai identitas jati diri yang jelas dan dapat berkomunikasi untuk menjadi satu warga. Bahasa adalah refleksi dan identitas yang paling kokoh dari sebuah budaya. Bahasa menjadi alat pengikat yang sangat kuat untuk mempertahankan eksistensi suatu budaya masyarakat. Pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang mampu mengantarkan anak menjadi: bertaqwa, berkepribadian matang, berilmu mutakhir dan berprestasi juga mempunyai rasa kebangsaan serta berwawasan global. Sedangkan proses pembelajaran menurut PP No. 19 Tahun 2005 terdefinisi sebagaip proses pembelajaran diselenggarakan sedemikian rupa sehingga terasa hidup, memotivasi, interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologisnya. Dalam proses pembelajaran, pendidik memberikan keteladanan

 

Pertanyaannya kemudian apa yang harus dimiliki terhadap tuntutan itu. Jawabannya adalah sebagai berikut :

Guru harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.

Kompetensi akademik adalah kompetensi keilmuan yang dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat keahlian yang relevan.

Kompetensi sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial sesuai Standar Nasional Pendidikan.

Ada hal yang harus diperhatikan oleh guru di luar pembelajaran di kelas seperti kata Harimurti Kridalaksana, bahwa undang-undang bahasa nantinya hanya mengatur penggunaan bahasa dalam tingkat pemerintahan. Menurutnya, aturan bahasa di masyarakat tak akan berlaku efektif karena masyarakat bisa mengatur sendiri penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini memberi syarat bahwa, bahasa Indonesia di ruang publik akan kita nikmati apa adanya, jika masyarakat tidak di beri pemahaman tentang begitu pentingnya mempertahankan keutuhan bahasa Indonesia. Tiga jenis bahasa yang ada di Indonesia, yaitu bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing saling memberi warna. Bahasa daerah mewarnai penggunaan bahasa Indonesia dalam aspek budaya atau nilai rasa, sedangkan bahasa asing mewarnai penggunaan bahasa Indonesia di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta di bidang Ekonomi khususnya Perniagaan. Akan tetapi yang patut dipertegas lagi adalah bagaimana setiap warna yang hadir itu tidak menenggelamkan eksistensi bahasa Indonesia.

Keprihatinan kita sebagai guru ketika melihat merek toko, kantor, dan hotel yang lebih cenderung menggunakan bahasa asing, padahal padanannya sudah ada dalam bahasa Indonesia. Istilah bahasa asing tetap dapat digunakan, namun, terjemahan Bahasa Indonesianya harus ditulis dengan ukuran huruf yang lebih besar. Sedangkan istilah bahasa asing ditulis di bawahnya dengan ukuran yang lebih kecil.

RUU Kebahasaan dan jika ada RAPERDA Kebahasaan harus memiliki ketegasan dalam pemberian saksi terhadap pelanggaran penggunaan bahasa. Menurut Prof. Dr. Melani Budianta dari segi pengawasan, pengaturan dan pemberian sanksi RUU Bahasa membangun suasana represif. Sebaliknya, ketidakmampuan mengimplementasikan aturan akan membuat sia-sia. Jika RUU Bahasa menjadi pilihan, orientasi sebaiknya pada pengembangan bahasa secara positif dan proaktif (dari pada penekanan pada pemagaran). Pemberlakuan Undang-Undang Bahasa juga perlu dibarengi pendidikan bahasa Indonesia yang lebih baik.

Dengan mengambil langkah strategik dalam penyelamatan bahasa, secara langsung kita juga telah membantu meminimalisasi terjadinya pergeseran bahasa. Pergeseran yang disebabkan oleh mulai ditinggalkannya bahasa oleh para anggota suatu masyarakat. Bukan tidak mungkin bahasa Indonesia akan ditinggalkan penuturnya, jika tidak ada upaya penyelamatan. Bangsa ini adalah bangsa yang cerdas, karena bangsa ini memiliki bahasa pemersatuan yaitu Bahasa Indonesia.

Masalah pemakaian bahasa di ruang public bias disikapi guru dengan mengangkat contoh-contoh yang terjadi di sapnduk, toko, hotel dan sebaginya bahwa penggunaan istilah-istilah asing sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia sehingga para siswa bias ikut memopulerkannya.

Sesungguhnya bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang akan menjadi salah satu pilar ketahanan nasional kita. Bahasa Indonesia memang bukanlah faktor determinan bagi ketahanan nasional Indonesia karena bahasa Indonesia hanyalah salah satu bagian dari gatra sosial budaya. Sementara itu gatra sosial budaya itu sendiri hanyalah salah satu unsur atau gatra yang bersama-sama dengan gatra-gatra lainnya saling hubungan dalam sebuah tatanan yang utuh, menyeluruh, dan terpadu di dalam keseluruhan kehidupan nasional. Namun karena bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional yang mampu mempersatukan seluruh komponen bangsa dan menjadi bahasa negara yang sangat penting untuk menyelenggarakan roda pemerintahan dan kegiatan lainnya, maka bahasa Indonesia menjadi kunci bagi terbentuknya ketahanan nasional Indonesia yang mantap. Hal ini berarti bahasa Indonesia memegang peranan penting sebagai alat penggerak atau operator bagi terwujudnya ketahanan nasional Indonesia yang mantap.

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang diikrarkan dalam Sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dapat juga disebut bahasa nasional atau bahasa kebangsaan (Alwi, Hasan dan Dendy Sugono, 2003: 231). Penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional pada 28 Oktober 1928 ini sangat menarik perhatian kita, karena bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional lebih dahulu ada sebelum negara kita, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia ada. Negara Kesatuan Republik Indonesia itu sendiri baru diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, 17 tahun sesudah Sumpah Pemuda 1928. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat pemersatu berbagai kelompok etnik yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya, dan (4) alat perhubungan antarbudaya serta antardaerah (Alwi, Hasan dan Dendy Sugono, 2003: 233). Keempat fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional itu menunjukkan sangat pentingnya bahasa Indonesia sebagai prasyarat keberlangsungan hidupnya bangsa Indonesia. Fungsi kedua menyadarkan kepada kita bahwa keberadaan bangsa Indonesia ditandai oleh adanya bahasa Indonesia. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa wujud kongkrit ke-Indonesia-an kita adalah dalam bentuk bahasa Indonesia. Sementara itu fungsi yang ketiga, yaitu sebagai alat pemersatu berbagai kelompok etnik yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya, sangatlah penting pada saat ini seiring dengan munculnya tuntutan dari beberapa daerah/kelompok etnik untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai contoh hingga saat ini masih kita dengan adanya gerakan separatis di Aceh dan Papua yang masih terus menggalang kekuatan untuk memisahkan diri dari negara Kesatuan Republik Indonesia. Kajian yang dilakukan oleh LEMHANNAS (2008) terhadap gerakan separatis di Aceh menunjukkan adanya kekuatan baru yang terus berjuang melalui jalur non-militer (terutama politik) untuk memisahkan diri dari negara Kesatuan Republik Indonesia. Temuan ini harus menjadi kewaspadaan kita semua, karena bangsa Indonesia telah mengikrarkan diri melalui Sumpah Pemuda 1928 dan kemerdekaan Republik Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita harus bersyukur karena bangsa Indonesia hingga saat ini telah dipersatukan oleh bahasa Indonesia. Kita tidak dapat membayangkan apa jadinya kalau tidak ada bahasa Indonesia sehingga berbagai etnik yang ada di Indonesia tidak dapat saling bertegur sapa atau berkomunikasi karena berbeda bahasa. Memang dalam situasi seperti itu akan muncul bahasa perantara agar berbagai kelompok etnik di Indonesia dapat saling berkomunikasi. Namun bahasa perantara itu tidak dapat menyatukan mereka karena bersifat sementara dan cenderung akan berganti-ganti sesuai kebutuhan dan hasil tawar-menawar berbagai etnik yang berkomunikasi..

Fungsi bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa telah berlangsung hingga saat ini. Keberhasilan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa ditandai oleh kesedian seluruh bangsa Indonesia berbahasa Indonesia terutama dalam berkomunikasi dengan warga bangsa yang berbeda bahasa daerahnya. Kondisi ini harus terus diupayakan keberlangsungannya karena akan menjadi indikasi keberhasilan kita mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia .Namun fungsi bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa Indonesia ke depan akan menghadapi persoalan dengan kecenderungan semakin banyaknya orang Indonesia berbahasa asing, khususnya Inggris, terutama di kota-kota besar dan di lingkungan tertentu, untuk mendukung kegiatan-kegiatan tertentu dalam kehidupan mereka. Memang pada aspek tertentu kecenderungan pemakaian bahasa asing akan mengantar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang modern melaui penyerapan nilai-nilai universal yang modern, terutama melalui ilmu pengetahuan dan teknologi dan nilai-nilai modern terutama kaitannya dengan demokrasi dan HAM. Namun pada sisi yang lain kecenderungan ini akan mengendorkan semangat untuk menggunakan bahasa Indonesia terutama dalam komunikasi dengan warga negara yang berbeda bahasa daerahnya. Apabila penggunaan bahasa asing telah meluas dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari, maka bahasa asing itu akan menggeser kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. Memang kecenderungan ini belum akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang mengingat heterogenitas bangsa Indonesia dalam hal pendidikan dan sosial ekonominya sehingga belum memungkinkan bahasa asing dikuasai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun jika kita tidak mengantisipasinya, maka kondisi seperti yang terjadi di Singapura, Malaysia, atau Brunei Darusalam akan terjadi pula di Indonesia. Di beberapa negara ASEAN itu bahasa Inggris telah menjadi ”bahasa nasional baru” yang siap menggeser bahasa nasional mereka yang sebenarnya. Bahkan di Singapura bahasa Inggris telah menjadi salah satu bahasa resmi mereka (Moeliono, Anton M, 1985: 46). Kita tidak menolak penggunaan bahasa Inggris di Indonesia. Namun bahasa Inggris sebagai bahasa asing harus ditempatkan sebagai bahasa yang berfungsi sebagai (1) alat perhubungan antarbangsa, dan (2) sarana pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk pembangunan nasional, atau (3) sumber pengembangan bahasa Indonesia terutama tata istilah keilmuan. Sesuai dengan butir ketiga Sumpah Pemuda 1928 dan Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV Pasal 36 bahasa asing tidak boleh menggeser kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional dan bahasa negara.

Kecenderungan lain yang harus mulai dipikirkan antisipasi dan solusinya adalah kebiasaan sebagian masyarakat kita, khususnya cendekiawan/generasi muda, yang menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Inggris atau mengucapkan kata-kata bahasa Indonesia dengan ucapan bahasa Inggris. Memang kondisi ini belum dapat dikatakan sebagai gejala yang membahayakan semangat persatuan bangsa. Pemakaian bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa Inggris atau pengucapan bahasa Indonesia dengan logat atau ucapan bahasa Inggris adalah gejala kebahasaan yang lazim dalam masyarakat dwibahasa terutama dalam hubungan informal dan akrab. Namun apabila kecenderungan itu berlanjut dan menjadi pola baru dalam berbahasa Indonesia, maka hal itu akan mencerminkan kurangnya rasa tanggung jawab dalam berbahasa Indonesia. Padahal tanggung jawab itu sangat penting karena siapa lagi kalau bukan kita yang harus menjaga agar bahasa Indonesia tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: