MEMADUKAN APRESIASI SASTRA DENGAN MAJALAH SEKOLAH SEBAGAI ALTERNATIF PENGAJARAN SASTRA

Oleh : Soleh Amin (Guru SMA Negeri 3 Semarang)

Sesungguhnyan sudah banyak guru atau pakar pembelajaran yang mengupas tentang pembelajaran sastra. Demikian juga tentang majalah sekolah yang sangat disadari bahawa keduanya berkait erat sebagai sebuah kombinasi. Nampaknya majalah sekolah memang dalam tantangan mengingat keberadaan web, bolg, dan fasilitas lain di internet. Masing-masing men=mang punya kelebihan. Blog suadah tidak lagi berpikir tulisan siswa akan termuat atau tidak, karena jawabannya pasti termuat dan pembacanya tidak hanya dari sekolah tetapi juga masyarakat dunia. Tidak salah juga kalau majalah sekolah punya factor yang diunggulkan antara laian keunggulan kelokalannya dan mudah dibawa dan dibaca ulang.

Kegiatan mengapresiasi dapat melibatkan kompetensi berbahasa lainnya. Setelah membaca, guru dapat meminta siswa menuliskan kembali (meringkas) cerita dan menuliskan pemeran cerita, karakterisasi, latar cerita. Menurut Rusyana (2003:4) menulis merupakan salah satu kompetensi dalam pembelajaran sastra untuk beroleh kemampuan berekspresi sastra. Ia menyebutkan menulis puisi, cerita pendek, dialog, dongeng dan drama singkat sebagai contoh kegiatan menulis yang dapat dilakukan siswa. Untuk mewujudkan kegiatan tersebut, guru harus menjelaskan bagaimana melibatkan perasaan siswa terhadap tokoh cerita yang dibaca oleh siswa dan bagaimana menghubungkan segala unsur yang ada dalam cerita dengan kehidupan sosial, budaya, dan agama yang dianut oleh mereka. Perspektif sosial dan budaya dalam mengidentifikasi karya sastra .

Berdasarkan bukti empiris banyak guru yang tidak mampu mengajarkan sastra dengan benar. Mengajarkan sastra dengan baik dan benar bagi guru masih sebatas angan-angan saja. Banyak guru yang menolak mengajarkan sastra karena merasa tidak mampu menyajikan pelajaran itu. Hal ini terjadi karena minat membaca mereka (khususnya karya sastra) sangat rendah. Memang tidak masuk akal menginginkan siswa yang gemar membaca karya sastra, sementara guru sendiri menghindari kegiatan itu. Kalaupun harus mengajar, mereka lakukan semampu mereka tanpa mencoba mempelajari metode-metode mengajar sastra yang telah ada.

Dengan kondisi ini para guru untuk mencari terobosan agar pembelaran aptrsiasi sastra dapat berlangsung dengan menarik. Kegiatan apresiasi yang cukup menarik tentu dengan membaca. Dari respon membaca, siswa memperoleh banyak hal terutama yang berkaitan dengan dirinya. Inilah perlunya kehadiran majalah sekolah.

Menurut Beach dan Marshall (1991:28) strategi respons pembaca terdiri atas tujuh strategi yaitu:

1. Menyertakan (engaging): Pembaca selalu berusaha mengikutsertakan perasaannya terhadap karya sastra yang dibacanya. Pembaca meleburkan diri ke dalam teks, membayangkan apa yang terjadi dan merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh cerita.

2. Merinci (describing): Pembaca merinci atau menjelaskan kembali informasi yang tertera di dalam teks.

3. Memahami (conceiving): Pembaca mulai memahami tokoh, latar cerita, dan bahasa yang digunakan dalam sebuah cerita dan memaknainya.

4. Menerangkan (explaining): Pembaca mencoba menjelaskan sebaik-mungkin mengapa tokoh cerita melakukan suatu tindakan.

5. Menghubungkan (connecting): Pembaca menghubungkan pengalaman mereka dengan yang terjadi pada tokoh cerita.

6. Menafsirkan (interpreting): Pembaca menggunakan reaksi, konsepsi, dan koneksi yang mereka bentuk untuk mengartikulasikan tema.

7. Menilai (judging): Pembaca memberikan pendapatnya tentang teks cerita, penulis cerita atau alur cerita.

Ketujuh tahapan tersebut dapat terfasilitasi dengan baik jika majalah sekolah berkembang dengan baik. Majalah sekolah pada umumnya merupakan salah satu bentuk kegiatan ekstra kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakat siswa dalam hal jurnalistik.

Alasan mengapa majalah sekolah digunakan sebagai media pengajaran yang baik untuk apresiasi sastra adalah faktor keremajaan siswa dan kesempatan tertampungnya kreativitas siswa. Mengingat majalah sekolah menuntut penanganan khusus, penentuan pengurus redaksinya biasanya melalui seleksi. Hal tersebut dapat penulis ketahui melalui wawancara dan pernyataan yang muncul pada salah satu pengantar redaksi CEMETI (Majalah SMA 3 Semarang) yang mengemukakan, “Para awak baru, yang tentu akan membawa ide-ide baru, pemikiran, dan, tenaga baru ini adalah orang-orang yang terpilih setelah melalui serangkaian seleksi redaksi” . Perkembangan remaja dimulai dengan masa puber, yaitu umur kurang lebih antara 12-14 tahun. Masa puber atau permulaan remaja adalah suatu masa saat perkembangan fisik dan intelektual berkembang sangat cepat. Pertengahan masa remaja adalah masa yang lebih stabil untuk menyesuaikan diri dan berintegrasi dengan perubahan permulaan remaja, kira-kira umur 14 tahun sampai umur 16 tahun. Remaja akhir yang kira-kira berumur 18 tahun sampai umur 20 tahun ditandai dengan transisi untuk mulai bertanggung jawab, membuat pilihan, dan berkesempatan untuk mulai menjadi dewasa.Anak usia SMA berkisar antara 14-19 tahun.

Tahap perkembangan tersebut oleh Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai masa dewasa. Lebih lanjut beliau mengemukakan, tentang periode yang ke-3 (14-21 tahun), inipun amat penting pula. Kepentingan ini terbuktilah dari namanya. Seperti kita ketahui, periode ke-3 ini sering disebut juga masa pubertet ke-2 (waktu menjadi masak yang ke-2 kalinya). Adapun masa pubertet yang ke-1 yaitu umur lebih kurang 3½-7 tahun. Dalam masa pubertet ke-1 itu anak-anak menjadi masak sebagai anak manusia (sebab tadinya masih berdekatan dengan sifat khewani), sedangkan pada masa pubertet ke-2 itu anak-anak akan masak sebagai manusia. Dalam ilmu pendidikan diterangkan, bahwa segala pengalaman dari pemuda-pemuda pada waktu itu akan turut membentuk watak atau budi pekertinya, buat selama hidupnya (Tauchid, 2004: 446).

Dalam pandangan Piaget, masa remaja merupakan masa transisi dari penggunaan berpikir konkret secara operasional ke berpikir formal secara operasional (Djiwandono, 2006: 96). Ihwal perkembangan masa remaja, Djiwandono (2006: 94-115) mengemukakan lima hal yang meliputi perkembangan fisik, kognitif, sosioemosional, pengajaran di SMP dan SMA, dan masalah-masalah remaja. Kelima hal tersebut dijabarkan pada uraian berikut.

Dengan mengikuti uraian Moeliono, yang memerinci ragam bahasa ditinjau dari sudut pandangan penutur dapat dikelompokkan berdasarkan tiga patokan, yaitu: (1) daerah, (2) pendidikan, dan (3) sikap penutur (1980: 17). Khusus yang berkaitan dengan sikap penutur dikatakan bahwa ragam bahasa menurut sikap penutur mencakup sejumlah corak bahasa Indonesia yang masing-masing pada asasnya tersedia bagi tiap pemakai bahasa. Ragam ini, yang dapat disebut langgam atau gaya, pemilihannya bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak berbicara atau terhadap pembacanya. Sikapnya itu dipengaruhi, antara lain, oleh umur dan kedudukan yang disapa, pokok persoalan yang hendak disampaikannya, dan tujuan penyampaian informasi (1980: 19).

Bertumpu pada pandangan di atas, majalah sekolah merupakan majalah yang dikelola oleh siswa sekolah yang tertentu dan lingkup pembacanya yang utama adalah teman-teman sekolah yang sebaya dengan rentang usia 14-19 tahun.

Bahasa sebagai cermin semangat keremajaan dapat diidentifikasi berdasarkan pilihan kata, cara penulisan kata, dan penyimpangan-penyimpangan dari kaidah baku sebagai upaya untuk menciptakan keakraban dan kemesraan relasi, seperti tampak pada uraian berikut.

Dengan demikian sebuah apresiai, penghargaan pujian, kritik untuk lebih sempurna, atau apakah namanya akan tumbuh dikalangan para siswa. Hal ttersebut bias muncul dalam rubrik cerita pendek, puisi, resensi, cerbung, kartun dan sebagainya..

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: